Seonggok Pasir Yang Menyadarkan saya, ya benar seonggok pasir yang benar-benar membuat saya sadar, sadar akan betapa kerasnya sebenarnya perjuangan hidup, sadar akan betapa berat hidup ini bagi mereka-mereka yang berjuang demi keping-keping receh rupiah…
Awal dari pemikiran ini adalah ketika ayah saya membeli pasir untuk menguruk samping rumah yang memang agak landai sehingga jika hujan datang pasti digenangi air, singkat cerita pasir sudah datang dan ditempatkan di depan rumah, nah tugasnya adalah membawa pasir tersebut dari depan rumah ke samping rumah atau ketempat yang landai tadi, karena jumlah pasirnya tidak sedikit dan kondisi ayah saya juga sudah tidak muda akhirnya kita cari orang untuk membantu mengerjakan tugas tersebut, datanglah namanya “Pak Udin”, orang suruhan ayah, orangnya ga terlalu besar, umur 40an lebih dikit dan dia memiliki gerobak sampah yang jadi tumpuan untuk menghidupi 4 anaknya, tanpa banyak kata dengan sedikit arahan dari ayah pak udin dengan cangkul di pundaknya langsung bergegas mulai bekerja dengan penuh semangat, nampak di raut wajahnya semangat itu, tampak wajah ke 4 anaknya dalam kobar semangatnya itu,saya tau persis, karena dengan semangat seperti itulah dulu ayah bekerja demi saya…
Bersamaan dengan itu sayapun juga mencari cangkul di dalam gudang dan langsung ikut membantu Pak Udin untuk memindahkan pasir dari depan menuju kesamping rumah cangkul demi cangkul, pasir dimasukkan ke dalam alat yang namanya Glendeng ( Kendaraan beroda 2 buatan warga fungsinya untuk mengangkut barang2 tertentu, ex. pasir, batu bata, dsb..), satu Glendeng saya masih sanggup, 2 Glendeng saya masih kuat, 3 Glendeng dah mulai lunglai, 4 Glendeng saya sudah K.O, capek mencangkul dan capek mendorong Glendeng dari depan ke samping rumah, capek…benar- benar capek, capek sekali, sangat capek sehingga saya harus duduk istirahat, saya melemaskan pinggang yang terasa kaku kram, menghela nafas dalam-dalam untuk menahan degupan jantung yang semakin kencang, sementara itu kulihat tampak Pak Udin dengan semangat juang tinggi tak henti mengulang kegiatan yang tadi kita lakukan bersama, “hebat….” benak saya berkata untuk menyanjung Pak Udin dalam hati, betapa hebat dia…dengan usia segitu tapi masih kuat bekerja seberat itu…
Dalam diam itu banyak yang saya renungkan, banyak hal menjadi jelas di kepala saya, seakan jawaban baru saja terungkap, jawaban atas pertanyaan yang tak pernah saya ajukan, saya sadari satu hal bahwa hidup itu ternyata seperti ini, hidup itu tak seperti yang saya ketahui selama ini, yang saya tahu hidup itu mudah, tanpa perjuangan, berjalan apa adanya, tanpa usaha, namun ternyata sebaliknya, hidup itu tak semudah yang saya bayangkan dan yang saya lalui selama ini, memang yang saya lalukan tadi hanya mengangkat pasir dan mencangkul dari depan ke samping rumah, namun itu adalah gambaran jelas, ada saya disitu yang tidak kuat karena hanya mengangkat 4 Glendeng pasir, dan juga ada Pak Udin disitu yang menjadi aktor utama dari gambaran tersebut, beliau terus mencangkul, terus membawa pasir dengan peluh yang tak henti, namun beliau semangat…semangatnya adalah 4 putranya, yang selalu dia bawa untuk bahan bakar tenaganya dalam menghabiskan sisa pasir yang masih ada didepan rumah..bahan bakar untuk mendapatkan upah yang hanya 75 ribu untuk menghidupi anggota keluarganya, salut…saya salut pada Pak Udin..Saya sendiri tidak yakin akan mampu berbuat seperti beliau suatu saat nanti…
Sejenak saya masih terdiam, dan akhirnya saya mulai tersadar dari lamunan tersebut, dalam sadar tersebut saya serasa menjadi orang baru, dalam sadar tersebut saya merasa mempunyai tongkat yang lebih kuat untuk saya jadikan pegangan dalam menghadapi hidup kelak, setidaknya saya lebih faham bahwa hidup itu lebih berat daripada 4 Glendeng pasiryang berhasil kupindahkan bersama Pak Udin, atau bahkan seberat sisa pasir yang masih harus dipindahkan Pak Udin, sekali lagi terima Kasih pada Seonggok Pasir yang telah menyadarkan saya…
Itu sedikit gambaran perasaan yang saya rasakan saat ini, bahkan yang mampu saya gambarkan disini mungkin tidak lebih dari 30% saja, hanya saya yang dapat merasakan arti ini, namun tidak ada salahnya jika anda sedikit berempati untuk mampu merasakkan dahsyatnya pengalaman dalam menerpa hidup kita, memberikan pelajaran yang tak pernah ada metode kurikulumnya, hanya kemampuan dari masing2 yang akan dapat mengambil pelajaran itu, semoga anda juga dapat mengambil sedikit pelajaran dari yang coba saya gambarkan disini, terima kasih dan……..Selesai…